alfabet bernada. |
Pelakon panggung sandiwara, pemimpi ulung pelukis nirwana. Gemar bermain sendiri juga bersama. Mencoba peruntungan dan keajaiban di atas angka sembilan. bersurat-suratan: anyusupardi at gmail dot com. |
Harusnya kami berdelapan menyebrang ke Halmahaera Barat pagi ini. Hari Jumat di Jakarta pasti sekusut Jumat sorenya. Begitu juga mereka! Dua orang teman siap membunuh waktu di atas meja kerja sementara kami sangat siap menyelam. Baik-baik saja seolah “Sampai besok ya..” lumrah.
Satu alasan mengapa kami bermalam di Ternate adalah menanti rombongan selanjutnya untuk bersama bertamu ke tanah HalBar. Harusnya lagi, mereka meninggalkan Jakarta Jumat pagi sekali, which is Kamis malam banget! Bukan, bukan itu. Entah apa yang jelas mereka tertinggal dan mau-gak-mau beli tiket lagi untuk Jumat malam banget atau Sabtu pagi sekali menyusul kami ke Ternate. Tidak! Susul kami ke HalBar.
Pagi itu matahari terik nian, udara segar dan angin di pelabuhan sudah memanggil ngajak main. Kira-kira 45 menit di atas air untuk sampai ke markas Gilolo Dive di sudut sebrang. Yang asik ngerumpi tetap hahahihi. Aku, menghindari mabuk laut memilih duduk sila ala yoga, merem tapi enggak tidur, dan mengajak sel-sel otak bermain dan berekspektasi dengan keriaan. Aku juga ngerumpi deng, dengan babi-babi kecil di kepala: “Hore aku liburan! Hore air asin.. Let’s geng..!” yang sedikit banyak mensugesti pikiran untuk tidak mual. Boong, tapi kalah sama excitement yang ada.
Huuaaahhh! Sampai di sana disambut pisang goreng sambal yang asli bikin ketagihan dan enggak berhenti ngunyah. Melipir sebentar ke rumah ibu @irineroba merapikan bawaan dari Jakarta dan menyiapkan alat-alat menyelam. Kami akan menginap tiga malam di sini. Ada Remus dan Black yang bikin kangen juga.

Geng Advance dan Open Water punya perhatian sendiri. Aku? Modal nekat lagi, akan bermain ditemani Dive Master dan ikut punya perhatian: panik. Di samping mereka juga, aku belajar apa itu BCD, regulator, tabung, booties, fins berikut teknis dan catatan penting lainnya (yang enggak bisa banget cuma jadi torehan di atas kertas, apalagi keluar masuk kuping). Pelajaran penting lainnya adalah: buang rasa takutmu di Bantar Gebang.
15 menit di atas air sampai melihat karang di sekitaran teluk Jailolo, 7 meter dalamnya. Aku masih di permukaan, sebut saja intro. Panas matahari super nyengat mulai terasa membakar kulit, sementara air asin, ndilalah mulai bikin gatal.
Serunya dunia di bawah sana, juga Buabua. Sudah pernah makan siang di pulau kecil yang cuma ada kamu? Aku pernah.
Sampai cerita berikutnya!
Mamahnya Jason Mraz.
Kali pertama terbang di atas Kepulauan Indonesia Timur, kali pertama bertandang ke bandar udara Sam Ratulangi Manado, kali pertama menginjakkan kaki di tanah Maluku.
Hari ini Rabu siang, dua jam lebih cepat dari waktu jam tangan Jakarta. Bukan kopi dan tombol on desktop di lantai tiga, tapi desis angin dan bising mesin burung besi. Aku di sini, Sultan Baabullah yang menyambut. Nama bandar udara di kota Ternate.
Panas dan sengat sinar matahari sudah mulai memerahkan warna kulit tangan yang sudah gelap. Ya, aku siap!
Lapar perut belum mengalahkan birahi air asin. Seketika niatan mencicip masakan terbaik di kota ini luntur, nasi rames ikan asap dan oseng buncis dibungkus ke Florida dan Tanjung Konde. Selagi empat penyelam asik di bawah air, di atas kapal goyang, jemari kaki beradu nyanyian dan tawa menanti senja. Di Tidore, dibawanya terpejam dibuahi angin laut. Aku.
Sebentar meninggalkan arus dan koral meja besar, amis pelabuhan sambut perut lapar. Sampai satu meja dipenuhi ikan bakar, ati kecap, ayam rica dan kangkung. Nasi pasti! Es kelapa gula aren yang buat makan malam ini makin ramai. Perutku penuh. Mengantuk.
Keesokan pagi. Terbangun sayup-sayup mendengar adzan subuh bersahutan. Ya, di tanah ini. Rumah ibadah tempat kami bersujud mudah sekali ditemukan. termasuk satu yang paling besar, di pelabuhan tempat speed boat kami bersandar, siap mengantar ke Jailolo.
Dear John, tell me everything. Write it all down, that way, we’ll be with each other all the time even if we’re not with each other at all.
— Savannah (Dear John)
Dear Sir:
I like words. I like fat buttery words, such as ooze, turpitude, glutinous, toady. I like solemn, angular, creaky words, such as straitlaced, cantankerous, pecunious, valedictory. I like spurious, black-is-white words, such as mortician, liquidate, tonsorial, demi-monde. I like suave “V” words, such as Svengali, svelte, bravura, verve. I like crunchy, brittle, crackly words, such as splinter, grapple, jostle, crusty. I like sullen, crabbed, scowling words, such as skulk, glower, scabby, churl. I like Oh-Heavens, my-gracious, land’s-sake words, such as tricksy, tucker, genteel, horrid. I like elegant, flowery words, such as estivate, peregrinate, elysium, halcyon. I like wormy, squirmy, mealy words, such as crawl, blubber, squeal, drip. I like sniggly, chuckling words, such as cowlick, gurgle, bubble and burp.
I like the word screenwriter better than copywriter, so I decided to quit my job in a New York advertising agency and try my luck in Hollywood, but before taking the plunge I went to Europe for a year of study, contemplation and horsing around.
I have just returned and I still like words.
May I have a few with you?
Robert Pirosh
385 Madison Avenue
Room 610
New York
Eldorado 5-6024
My new favorite job application letter, from 1934. He ended up winning an Oscar for screenwriting!
(via Letters of Note)
(Source: megangreenwell)
MO Architekten, concrete stairs with cord crisscrossing to form the sides of the railing
We are back! follow us @celepukleather for more details and info update for our newest collections.
Grandfather clocks by Forsberg Form
Spoonachos